Rabu, 08 Juli 2015

Lelaki Pucat dan Nona Muda

Sebuah piring putih polos dan sebuah garpu. Di atasnya beberapa potong buncis, brokoli dan wortel, sedikit sawi dan kacang polong, serta beberapa potong udang rebus kemerahan. Sedikit bawang putih yang ditumis dalam olive oil
"Apa ini?" ia mendengus keras dan wajahnya berubah merah.
"Ini makan siangmu sekarang," ucap seorang perempuan muda yang di panggil nona muda oleh beberapa pelayan. Rambutnya hitam legam dengan alis tebal dan sepasang mata tajam.
"Mulai kapan aku menelan makanan seperti ini, mana pelayan kemarin!" dia berdiri menggebrak meja dan pelayan lain berlarian mencari perempuan yang dia maksud hingga ke dapur bahkan ke taman dan ke halaman. Piring dilemparkan dan garpu dihempaskan, kursi lain terbang menghantam dinding ruangan, semua berlarian. Kecuali nona muda yang masih terpaku di kursinya, tapi matanya setenang aliran sungai Gangga.


Suara teriakan lelaki pucat menggema menyusuri lorong-lorong panjang dengan puluhan pintu banyaknya. Namun hening tak ada penghuni selain lelaki pucat dan berlusin pelayannya.
Tergopoh wanita tua berlari mendekat dengan lutut gemetar dan tangan saling remas tampak cemas. 
"Iy..Iya tuan." wajahnya ditundukkan sangat dalam, hampir tak nampak.
"Makanan apa ini!" teriaknya lelaki pucat sekali lagi mengagetkan semuanya. Tangan kekarnya menghantam meja bergeretak dan membuat ciut semua.
Wanita tua meremas ujung apronnya yang lusuh dan air menggenang di ujung mata. Giginya bergemeretuk menahan takut, bahunya berguncang-guncang.

"Sudah kubilang, aku yang membuatnya, bukan dia." suara nona muda dengan tenang masih di tempat duduknya.
"Tak bisakah acara makan malam sedikit lebih tenang." ucapnya lagi.
Sementara semua pelayan kalang kabut bersembunyi di balik tembok, di balik pintu, mereka ngeri bagaimana nasib si nona muda berakhir. Kemarin nona muda yang lain berakhir jatuh ke halaman dengan darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Sebelumnya nona muda lain berakhir dengan tubuh memar terlempar dari kursinya. Mereka membayangkan tubuh indah dan mulus perempuan muda itu akan terlempar ke bara kayu pemanas ruangan atau lebih mengerikan lagi.

Mata nona muda tak berubah, tak ada rasa takut di sana. Matanya tajam menantang mata lelaki pucat yang berdiri di seberang meja dengan marahnya.
"Bisakah.." ucapnya lagi. Entah sihir apa yang dibawa nona muda berambut legam ini, lelaki pucat pelan kembali terduduk di kursinya. Dengan dengusan kesal tentunya.
Piring yang tadi terlempar di tarik mendekat oleh nona muda beserta garpunya.
"Segala sesuatu yang baru tampak asing, kau hanya perlu memulainya." ucap perempuan muda tenang.
Lelaki pucat dengan kuku jari yang sama pucatnya menusuk brokoli dengan garpunya hingga menancap.
Semua mata pelayan dari balik pintu dan tembok mengintip penasaran sekaligus takut.
"Masukkan mulut dan kunyah, semudah itu." ucap perempuan itu lagi.
Ketika memasukkan makanan ke mulut matanya berubah membulat, mata yang indah seandainya tanpa amarah, kemudian wajah itu perlahan berubah tenang lagi.
Lelaki itu mengunyah pelan dan ... menelannya.
"Mudah bukan.." ucap si nona muda.

Dia tiba-tiba bergerak maju menodongkan garpu ke leher si nona muda, menekannya hingga wajah nona muda  tampak kesakitan.
"Kau,...beraninya kau.." ucap lelaki itu dengan amarah tertahan.
Tak ada gentar di mata nona muda.
"Lakukan saja.." tantangnya.
"Kau.." lelaki itu menggebrak meja dan berjalan menjauh meninggalkan meja makan.
Sepanjang lorong pintu tampak di banting keras dan pelayan berlarian menjauh bersembunyi.
"Lelaki aneh." gumam nona muda kemudian.
"Kendalikan nafsu makanmu, atau kau kena masalah." gumamnya lagi.
Beberapa pelayan tampak datang mengerumuni nona muda setelah punggung lelaki pucat hilang di lorong panjang.
"Kau tak apa-apa?" tanya mereka. Nona muda menggeleng saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.