Senin, 15 Juni 2015

Sepotong Kisah

"Kenapa itu kakimu?"
Salah satu jari kakinya berdarah, ada sedikit kulit yang terkelupas meninggalkan sebuah luka yang memerah dan mengeluarkan darah.
"Tadi jatuh mbak" jawab anak-anak yang lain.
"Gak papa mbak" jawabnya tak mau lebih menunjukkan kakinya padaku.
"Lihat" kataku sambil menarik kakinya.
"Ada yang punya obat merah?" tanyaku pada teman-temannya yang berkerumun ikut mengamati.
"Ada mbak" seorang anak laki-laki dengan kaus putih bergambar bebek lari menjauh tanpa diperintah. Beberapa menit kemudian muncul dengan sebotol obat merah di tangannya.
Aku mengambil kapas dan membersihkan lukanya.
"Gak papa mbak nanti juga sembuh" ucapnya lagi sambil meringis menahan perih.
Aku menatapnya tanpa mengatakan sesuatu, kemudian memberi obat merah pada lukanya.
"Dah, makanya kalau naik sepeda hati-hati" kataku sambil melangkah menjauh.


                         ***
Aku sedang berdiri menunggu antrian mandi. Perempuan lain sedang mencuci dengan busa sabun memenuhi lantai. Anak-anak yang mandi bersama-sama di satu kamar mandi berteriak-teriak berebut gayung. Seorang lelaki sedang memompa sumur dengan kedua tangannya yang terlihat kekar. Setiap pagi kamar mandi yang berderet sekitar lima kamar itu penuh orang antri di depan pintunya untuk mandi.

Setelah selesai mandi aku berjalan santai menuju deret pemukiman sambil mendendangkan sebuah lagu. Ibu yang tinggal di petak paling ujung sedang membuka dagangannya. Sebelahnya lagi sedang mencuci peralatan dapur di depan kamar. Ada keran air di situ dan tempat masak ibu-ibu pegawai pabrik.

Saat kakiku hendak masuk ke kamar dari kejauhan ada seorang anak laki-laki yang berlari. Suara sandalnya seperti mendekat ke tempatku.

"Mbak" dia terengah-engah menormalkan irama nafasnya.
"Apa"
"Mbak dapat salam" dia senyum-senyum sendiri.
"Ya, wa'alikum salam" kataku hendak  masuk lagi.
"Eh mbak" suaranya mencegahku, dia berdiri dekat pintu. Tangannya bertumpu pada kayu pintu.
"Apalagi?"
 Aku menatapnya lagi.
"Anu mbak"
"Apa?"
"Mbak anu..ehm..anu" anak itu mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil berdiri tak tenang bergerak kesana kemari.
"Apa sih ona anu dari tadi"
"Mbak, dia bilang terimakasih" katanya sambil menunjuk. Aku mengikuti ke arah tangannya menunjuk. Beberapa anak di atas sepeda masing-masing di kejauhan dekat tikungan. Salah satu dari mereka tampak senyum-senyum di kejauhan, yang lain tampak menatap dan menggoda anak itu.
"Oh, iya" jawabku akan masuk kembali.
Anak itu tampak bingung melihatku, kemudian mulai berjalan menjauh. Ketika aku keluar kamar lagi dan hendak menjemur handuk dia tampak menatapku lagi.
"Apalagi?" tanyaku pada anak yang tadi.
"Mbak, dia suka mbak" katanya sambil tertawa kemudian berlari cepat dan bergabung dengan yang lain.
Aku menatap padanya, anak yang kemarin itu. Dia tersenyum dan mengangguk padaku.
"Dasar bocah" gumamku.

                         ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.