Rabu, 03 Juni 2015

Kekal Dalam Ingatan

Di depan rumah saya dulu ada jalan setapak yang menghubungkan setiap rumah. Jalan kecil itu dibuat swadaya oleh seluruh penghuni kampung. Setiap saya bepergian ke warung atau kemana saya pasti memilih melewati jalan setapak itu. Selain karena lebih dekat juga terhindar dari becek saat hujan. Meskipun saat ini jalan setapak itu sudah hilang atau rusak dimakan usia dan pembangunan jalan yang lainnya.


"Kenang, kenanglah dia yang ingin kau kenang dan lupa lupakanlah dia yang ingin kau lupa"

Suatu sore saya lewat jalan setapak karena ada suatu urusan di rumah saudara. Saya berjalan melewati rumah tetangga saya. Melewati dekat jendela rumah itu yang sudah tertutup sayup saya mendengar suara orang. Saat itu sekitar magrib atau menjelang isya'. Suara seorang lelaki yang saya tahu benar itu milik siapa. Suara seorang lelai tua di rumah itu. Lelaki tua itu sedang membaca Al-Qur'an dengan suara yang tidak terlalu kencang tetapi karena kamarnya dekat dengan jalan maka saya bisa mendengarnya. Bukan sekali dua kali saya lewat setiap sore dan selalu saya dengar suara lelaki tua membaca Al-Quran.

Lelaki tua itu jarang sekali berbicara, atau lebih tepatnya saya jarang bicara dengannya. Jangankan marah bicara saja saya jarang mendengarnya. Dia memang seorang pendiam. Dan lelaki tua itu kini tiada bertahun lalu. Setelah sekian lama saya mencoba mengingat-ngingat lagi tentang lelaki tetangga saya itu, yang saya ingat darinya hanya satu hal. Satu hal itu adalah dimana setiap sore saya lewat dekat rumahnya dan mendengar suaranya membaca Al-Qur'an. Hanya itu yang tertinggal di ingatan saya. Saya jadi berpikir, selama ini saya juga menjadi tetangganya kadang berbincang seperlunya.

Saya juga mengingat nenek saya yang kedua-maksud saya istri kedua kakek saya. Saat itu saya masih SD dan senang sekali jika main ke rumah nenek saya itu. Satu hal yang kuingat dia sangat penyayang. Suatu hari saya pernah menyukai ayam di rumah nenek. Karena suka, nenek saya menangkap ayam peliharaannya itu dan memberikan pada saya untuk saya bawa pulang. Dengan tubuh saya yang mungil saya berjalan kaki membopong ayam yang ukurannya cukup besar. Lucu juga mengingat kejadian itu.

Kelak jika saya sudah tak ada lagi, apa yang akan orang ingat tentang diri saya? saya sadar saya hanya manusia biasa yang pasti banyak melakukan salah atau dosa. Mungkin menyakiti orang lain dengan ucapan saya, tindakan saya apapun itu alasannya. Semoga hal baik yang orang ingat tentang saya, amin.

Ada banyak hal yang kita lihat kita alami di kehidupan ini. Pilih yang ingin kita ingat dan buang lupakan yang ingin kita lupakan. Tidak semua hal ingin kita ingat, jika itu menyiksa diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.