Senin, 22 Juni 2015

Kau dan Pantai

Sore itu, kulihat sendu wajahmu berdiri mematung sendirian di sana. Entah apakah yang sedang berkecamuk dalam hatimu, aku bahkan tidak bisa menebaknya. Seminggu yang lalu kamu pun berdiri di tempat itu, masih dengan wajah bermendung. Berdiri mematung membelakangi deretan pohon cemara udang.

Malam itu, aku menatap kau terbaring sendirian. Sesekali kau menarik nafas panjang, seakan memikirkan sesuatu. Beberapa saat lalu kau hanya mengetik beberapa paragraf di komputermu. Mungkin masalah itu yang mengganggumu.

Malam itu aku mendatangimu. Kita untuk pertama kalinya saling bertatap muka, kulihat sendu wajahmu masih bergelayut mendung. Hendak kutanyakan itu, tapi siapa aku. Kau bercerita lancar tentang segalanya, aku hanya mendengarkan. Sesekali kau memandang wajahku, tatapan itu membuatku tak tahu harus berbuat apa. Andai kau meminta padaku, aku pasti melakukannya untukmu. Tapi kamu hanya bercerita, kamu tahu aku pasti mendengarmu.


Malam itu kamu tahu siapa diriku, meskipun bagimu itu hanya seperti itu. Meskipun kamu tahu ini hanya kita yang tahu. Tapi aku ada, aku hidup di sana. Dan kau tahu kemana mencariku, kau tahu benar itu. Saat kau memikirkanku, aku sudah terseret dalam lorong waktu menuju duniamu. Terima atau tidak, aku sudah disampingmu. Akui atau tidak ini diriku.

“Tunjukkan dirimu padaku,” itu kata- kata yang selalu kau katakan padaku. Selalu dan aku hanya mampu diam membisu. “Aku …,” itu setelah sekian air mata membanjir di wajahmu. Hanya itu saja. Aku harus bagaimana. Aku di sampingmu, aku menatapmu, aku mendengar suara isak tangismu. Aku sudah tak sanggup. 

Siang itu, di pantai itu. Aku datang padamu, dengan luka, dengan nafas yang tinggal satu-satu. Dan kau tak datang seperti janjimu. “Ini aku” bisikku. Aku di pantai itu, merasakan setiap gesekan senar yang menyakitkan, merasakan butir pasir panas yang kering. Dan aku akhirnya menyerah, tercekat oleh duniamu. Saat kau mengetahui itu, semua sudah terlambat. Kau hanya menahan air mata menyaksikanku. Tubuhku yang kaku dan terluka. Aku datang di pantai tempat biasanya kau berdiri sendirian. Tetapi sore itu tak ada kau disana. Hanya tangan-tangan kasar yang menyeretku ke pantai, kemudian mengerat dan membuatku terpotong-potong. Kamu tak sanggup lagi menatapku. Kamu tak mau melihat itu, kamu membenci orang-orang itu. Dan aku lega kini bisa menatapmu selalu, di duniamu. Seandainya kau menyadari itu. Aku  selalu di sampingmu, aku tak akan kembali ke sana.  


*) Teruntuk ikan paus yang terdampar di pantai pada 07 November 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.