Rabu, 06 Mei 2015

Beauty and Sadness

Novel Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata (1899-1972) ini saya pinjam dari perpustakaan. Setelah saya menamatkan membaca buku Neil Gaiman untuk mengobati kekecewaan karena belum bisa membeli bukunya yang bergambar lucu di Gramedia waktu itu. Saya penasaran dengan tulisan Neil Gaiman dan beruntung saya menemukan salah satu bukunya Interworld karyanya bersama Michael Reaves. Kembali ke buku Beauty and Sadness saya cukup menikmati tulisannya. Buku yang bagus biasanya saya tak ingin melewatkan satu kalimatpun untuk membacanya. Berbeda jika bertemu buku yang sedikit membosankan saya biasanya akan langsung loncat ke halaman akhir he he.


Saya sengaja menuliskannya di sini agar saya ingat pernah membaca buku ini. Sekali lagi karena ini buku hasil pinjam di perpustakaan jadi saya perlu menuliskannya seandainya saya lupa. Buku ini judul aslinya  Utsukushima To Kanashimi To, atau diterjemahkan Keindahan dan Kesedihan oleh Penerbit Jalasutra dengan editor Anton Kurnia. Kawabata sendiri ditemukan tewas diduga bunuh diri pada 16 April 1972. Peraih Nobel Satra tahun 1968 ini karyanya antara lain The Izu Dancer 1925, Snow Country 1956, Thousand Cranes 1959, The Sound of The Mountain 1970, dan The Master of Go 1972. 

Biasanya kalau membaca tulisan lama maksudnya terbitan atau ditulis penulis yg hidup di zaman dulu selalu gagal paham dengan gaya bahasanya. Namun di novel ini saya sedikit saja menemui kesulitan, entah karena memang penerjemahnya yang bagus atau memang gaya penulisan karya Kawabata Yasunari ini yang mudah saya pahami. Seperti saya pernah tulis sebelumnya bahwa baru-baru ini saja saya membaca buku fiksi atau novel meskipun saya suka membaca buku tetapi kebanyakan buku yang saya baca buku nonfiksi. Penemuan buku Kawabata Yasunari ini mirip dengan kagetnya saya ketika tahu film Coraline diangkat dari buku Neil Gaiman.

Sebenarnya saya sendiri belum menamatkan buku ini, rasanya sayang membaca buku ini cepat-cepat jadi saya membaca pelan-pelan saja. Tidak seperti buku Interworld, karena penasaran saya terburu-buru menyelesaikannya dalam sehari semalam saja. Istilah 'bening' dalam bahasa yang digunakan Kawabata bagi saya lebih berarti lembut. Saya merasakan bahasanya yang lembut itu, mungkin karena ditulis dengan perasaan yang sama lembutnya. Novel ini berisi 9 bagian Lonceng Kuil, Musim Semi yang Terlalu Dini, Pesta Bulan Purnama, Langit yang Gerimis, Taman Batu, Teratai dalam Nyala Api, Jalinan Rambut Hitam, Musim Panas yang Hilang dan Danau Kelabu.

Novel ini tidak begitu tebal, sehingga bisa cepat habis jika dibaca. Isinya sesuai gambar depannya pasti seperti itu tapi sejauh bagian awal yang saya baca masih tidak terlalu vulgar. Novel ini bercerita kompleksnya masalah cinta masa lalu berupa perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang penulis novel Oki Toshio dengan gadis remaja belasan tahun Ueno Otoko. 

Oh iya omong-omong sekarang ada pameran buku loh di Gedung Wanitatama Yogyakarta seperti biasanya itu. Jika beberapa waktu lalu di gedung yang paling timur saat ini yang paling barat lagi, apa sih namanya saya lupa seingat saya seperti nama wayang gitu nama gedung-gedungnya. Siapa tahu ada yang hendak borong buku, lumayan banyak buku diskon loh. Acaranya hingga tanggal 7 Mei 2015 ya jangan sampai terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.