Senin, 18 Mei 2015

Api Unggun di Puncak Bukit

Kampung itu terletak di pegunungan yang jalannya naik turun. Jarak antar rumah sangat jauh, dibatasi kebun yang penuh pepohonan. Sawah tidak begitu luas hanya beberapa petak, sisanya kebun yang kering dimusim kemarau. Pemuda di kampung itu sudah nyaris tak ada, tersisa orang-orang tua dan anak-anak. Pemuda kampung itu jika lulus sekolah kemudian merantau ke kota besar. Itu kata pak tua yang bercerita padaku di suatu siang.

Malam itu, selepas pengajian di salah satu rumah penduduk kami bersembilan diajak untuk naik bukit. Malam-malam mana jalan sangat minim penerangan, aku sempat ragu untuk ikut. Tapi temenku cewek malah pada antusias mau melihat kota Yogyakarta dari atas bukit. Apa indahnya menurutku sih. Aku iyakan saja, kalaupun aku pulang juga sendirian. Kami menembus gelap dipandu salah satu pemuda kampung itu. Jalannya menanjak, jalan setapak yang hanya muat dilewati satu orang. Kami saat itu hanya membawa penerangan dengan obor, kampung banget ya. Hasilnya sampai puncak obor mati dan kita gelap-gelapan.

Semula aku senang membayangkan melihat kota dari atas bukit di jajaran bukit Menoreh. Keadaan menjadi berubah. Saat itu salah satu ada yang membawa korek api. Kami berpencar mencari sisa kayu kering atau daun kering untuk dijadikan api unggun. Dalam gelap hanya disinari sinar rembulan kami kesana-kemari mencari daun kering. Dekat situ ternyata ada sebuah rumah kecil, tapi tertutup aku tidak begitu jelas melihat, kakiku justru tertarik menuruni lereng bukit sedikit kebawah. Ada ranting kering disana, tetapi baru beberapa langkah turun telingaku menangkap suara asing. Suara yang tidak ingin ku dengar lagi. Aku buru-buru naik ke atas. Ternyata di atas teman- teman sudah menyalakan api unggun kecil. Saat api menerangi sekeliling, Astagfirrullah... tak jauh dari tempat itu kulihat jejeran nisan. Ternyata itu sebuah kuburan di puncak bukit. Keberanianku langsung surut, beberapa kali aku mengajak temanku turun saja. Kegilaan macam apa yang kami lakukan malam-malam begini. Rumah yang kulihat itu ternyata rumah untuk upacara pemakaman. Bulu kudukku berdiri, dari tadi kami berkeliaran di kuburan malam-malam hanya demi melihat pemandangan kota?

Setelah cukup lama dan teman-teman puas sementara aku ketakutan, kami akhirnya turun lagi. Sepanjang di atas bukit tadi aku terus berdoa dan mengucap ayat-ayat apapun yang kuingat. Semoga mereka yang sedang beristirahat di sana tidak marah, sebisa mungkin kaki kami tidak menginjak sembarangan. Biasanya lewat kuburan malam-malan saja menakutkan lha ini malah kelayapan di kuburan malam-malam, entah apa yang kawanku pikirkan saat itu.

Terimakasih sudah membaca.

4 komentar:

  1. bukit menoreh emang cihuy..huwaa pengen ke sanaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gustyanita Pratiwi: iya, silahkan main saja ke sana, ada banyak obyek wisata sekarang :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Obat herbal: hehe ya besok saya gak nulis serem lagi :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.