Kamis, 09 April 2015

WANITA MOCHI

Annyeong haseo” −Apa kabar
Annyeong haseo. Mannaseo ban gapsseumnida” −Apa kabar, senang sekali bertemu dengan anda.

Wajahnya lembut seperti mochi, senyumnya manis dihias lesung pipit, dan rambut hitam tebal jatuh lembut di wajahnya. Keindahannya menandingi pemandangan pegunungan yang berlekuk hijau di kejauhan, segar membuat ingin kembali. Seandainya aku terus disini.

Di kejauhan pucuk teh menghijau bergerak seperti ombak, menebar hawa sejuk dan dingin di pegunungan. Daun teh di Hadong dekat sungai Seomjin, dipanen antara akhir bulan April dan awal bulan Mei. Perpaduan antara tumbuhan teh yang dibudidaya dan tumbuhan teh liar banyak dijumpai di pegunungan ini.

Berjalan diantara pohon teh kukira semudah yang kulihat di iklan televisi, seperti mudahnya memotong pucuk teh yang masih hijau itu. Bahkan dengan memamerkan senyum yang tampak damai. Ternyata tak semudah itu, kaki harus dilindungi dengan sepatu dan baju yang agak tebal karena beberapa kali ranting pohon teh itu melukai kulit. Belum lagi jika musim cenderung lembab, tanah merah tempat berpijak menjadi licin, tanaman teh yang kebetulan berada di lereng yang curam sehingga harus hati-hati dilalui. Salah-salah kita bisa terpeleset dan jatuh diantara semak pohon teh hingga bawah. Bayangkan pegalnya tangan memetik pucuk teh di kebun seluas itu, pegal-pegal pasti bagi yang tidak biasa melakukannya apalagi jika harus berdiri lama.

Ijjogeuro anjeusipsiyo”−silahkan duduk di sini.
Ne”−Ya

Aku menatap wanita mochi itu. Kadang mengamatinya lama-lama kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah seperti dua butir mochi besar yang begitu ranum. Dia duduk dengan tenang di depan meja kecil dengan beberapa cangkir berwarna putih yang tak kumengerti. Mataku menatap Gunung Jiri di kejauhan. Dia mengambil sejumput teh kemudian memasukkan ke teko kecil dan menuangkan air mendidih ke dalamnya. Sebuah cangkir dengan teh warna hijau muda lembut kemudian di berikan padaku dengan senyum. Aku menghirup aroma wangi yang khas dan meminumnya dengan pelan.


Pa, makannya keburu dingin” suara istriku membuyarkan lamunan.
Kepiting asam manis di piring tinggal cangkang keras warna merah cerah. Istriku menyorongkan piring berisi cumi goreng dan ca kangkung yang mengepul. Aku mengambil cumi goreng itu, kulitnya dibalut tepung renyah digoreng sebentar meninggalkan kenyal daging cumi dan gurih pedas tepung bumbu. Aku mengunyahnya begitu saja, tepung bumbu rasanya beda dengan rempah yang di racik oleh tangan seorang wanita di dapur.

Ingatanku melayang saat menikmati kepiting itu di loteng sebuah hanok−rumah sewa, kepiting berbentuk tangan dan kerang Corbicula yang banyak ditemukan di hilir sungai Seomjin yang biasa dimasak wanita berpipi mochi. Dia mengolahnya sendiri, dan aku memandanginya, bagaimana tangannya yang mungil memotong sayuran dan rempah. Wajahnya yang lembut jadi tampak kemerahan karena panas dan keringat mengalir dari sela rambutnya jatuh mengalir menyusuri pipi mochinya. Tak berapa lama Gukbab, Bibimbab atau sesekali Jaecheopguk terhidang di meja makan.

Masitta” –Enak
Ucapku dengan mulut penuh. Dia hanya tertawa kecil dan menambahkan gukbab di mangkukku.

Siang itu tugasku belajar kehidupan dan seluk beluk teh di Hadong hampir usai. Aku berencana menemui wanita berpipi mochi yang senantiasa tersenyum. Aku memberanikan diri, meskipun aku tahu kosa kata kami sangat terbatas.  Aku mengetahui statusnya yang masih lajang. Setiap malam kulihat dia membereskan hanok dan pulang di pagi hari menyiapkan makanan dan air teh yang hangat. Perasaan itu lambat laun saling merangkul dan berkumpul, mengendap dan akhirnya menyesakkan.

Kebetulan malam itu persiapan festival teh di Hadong aku menyempatkan datang, ingin melihat acara itu dan sekalian mengabadikannya dengan kameraku. Aku bersama rombongan akhirnya terpisah sendiri-sendiri dengan janjian jam sekian kami nanti harus segera berkumpul di depan gerbang masuk lokasi. Meski aku bukan fotografer profesional tapi kameraku cukup cantik membingkai keindahan malam Hadong. Wajahku mengamati setiap orang yang berlalu lalang, sesekali kulihat wanita dengan hanbok. Beberapa stan menawarkan teh hijau gratis untuk dicoba wisatawan yang banyak datang, dan teh hijau khas Hadong yang sangat terkenal bisa di beli dengan harga lebih murah.

Wanita berpipi mochi akhirnya kutemukan berdiri di kejauhan berwajah riang dengan beberapa wanita lain. Dia memang kemarin sempat bercerita hendak datang ke festival ini bersama beberapa kawannya. Mengenakan hanbok−pakaian khas wanita Korea−dengan Jeogori−sejenis rompi−berwarna pastel biru muda dan Chima−pakaian yang dipakai di dalam Jeogori berwarna polos tanpa lengan−warna merah muda. Kupikir orang Korea memiliki seni dan menghormati wanitanya khususnya dalam hal berpakaian, Chima yang anggun dan sopan menutupi lekukan bagian bawah tubuh dengan lebar dan longgar sedangkan Jeogori menutup bagian atas tubuh dan  berlengan panjang. Hanbok sekarang lebih simpel, di zaman dulu hanbok hanya di pakai kalangan terhormat dengan motif yang rumit, sedang rakyat biasa dengan motif yang lebih sederhana. Aku masih membidikkan kamera, wajah mochinya yang putih bersih merona merah lembut serasi dengan Jeogori warna merah muda. Bahkan sikapnya yang santun ketika memakai hanbok, membuatnya tampak angun terhormat seperti putri dari Dinasti Joseon. Aku membidik kearah wanita itu beberapa kali, ketika dia tersenyum dan menutupi bibirnya dengan satu tangannya. Jantungku serasa berdetak lebih keras menatap keindahannya, ada gelenyar aneh di perut yang merambat ke dada terutama saat matanya menatap sekilas padaku, membuatku merasa ketahuan dan buru-buru mengalihkan kamera kearah seorang lelaki yang sedang sibuk menawarkan teh hijau.

Kau datang sendirian?” tiba-tiba suaranya mengagetkanku.
Aku sejenak menenangkan degub jantungku,”Iya, dan kau?” tanyaku kemudian.

Dia menunjuk beberapa kawan wanitanya yang tertawa kecil di kejauhan. Mereka yang merasa kami pandangi kemudian melambaikan tangan pelan kemudian senyum-senyum kembali.

Baru pertama kali melihat festival teh disini bukan?” tanyamu dengan bahasa Korea dan Inggris campur aduk.
Aku mengangguk,”Iya, sangat ramai dan indah” pujiku.
Kau suka tempat ini?” tanyanya lagi.
Ya, aku ingin kembali ke sini lain kali
Janji” tak kusangka dia mengatakan ini. Aku memastikan yang kudengar tadi.
Ya” aku menjawab ragu.
Dia tersenyum dan menunduk memandangi kain merah mudanya sesekali “Apakah di kotamu ada kebun teh seperti ini?
Iya ada, tetapi tidak seindah ini” jawabku
Terlebih tidak mungkin kutemukan wanita cantik dengan hanbok merah muda” dia tersenyum sambil menatap mataku, aku menatapnya lama.
Kau memiliki seseorang yang ‘dekat’ saat ini?” tanyaku lancang dan terlalu berani.
Kutemukan wajahmu sedikit berubah. Seakan berusaha menyembunyikan sesuatu dengan menghindar dari tatapanku.
Tak sekedar ‘dekat’ bahkan akan melekat pada seseorang” suaramu tampak berat dan tertahan. Ini sudah kutebak, dan ada sesuatu yang berdesir di dadaku kembali. Mendadak desir itu berubah ngilu menyusuri seluruh tulangku.
Kau beruntung, selamat ya?” kalimat yang sewajarnya kukatakan, dan hanya itu yang sanggup kusampaikan.
Dia menggeleng pelan. Pembicaraan kami terpotong ketika beberapa kawan wanitanya kembali menghampiri, mereka pergi dengan masih berbisik-bisik dan tertawa kecil. Aku menatapnya tak rela, ketika tubuhnya hilang di lautan manusia. Aku menangkap nada sedih dalam jawabannya, dan aku belum mendengar tuntas ceritanya. Terlebih ada yang meredup di dada, yang belum sempat kuceritakan pendarnya.


Aku merasa mulai Jatuh Cinta Diam Diam pada wanita mochi. Aku menyimpulkan itu kulminasi sekian ratus desir menakjubkan di dada yang sering kualami. Membuncah membentuk rindu dan mengasingkan diriku di keramaian orang yang bersiap di depan hanok menunggu bis jemputan. Meski pendarnya semakin menipis dan meredup, sayup. Seakan mengabarkan ada yang hilang sebentar lagi, tinggal di sini selamanya, sepotong puzzle hatiku, sepotong yang ingin kupungut pulang jika aku mampu. Seakan menjelma kutuk pendar redup di dadaku, yang bakal menghantui kehidupan yang jauhnya ribuan kilometer dari sini.

Mataku mencari - cari wajah wanita mochi di antara ramai orang di halaman, aku berharap dia datang. Aku ingin pergi tapi ijinkan sekali lagi kulihat potongan puzzle hati yang bakal tertinggal di kota ini. Aku semakin cemas, bis yang menjemput telah datang di depan kami. Satu persatu orang telah duduk di kursi dan sebagian lagi memastikan koper masuk di bagasi.

Wajah itu tak juga aku temukan. Hingga seseorang menyuruhku segera masuk, terasa berat kakiku menjauhi tanahmu, serasa ada yang bakal mati dalam dingin dan tak pasti di tanah ini. Aku menatap dari balik jendela, sesosok wanita berlarian mendekat ke bis yang mulai melaju. Wajahnya tampak ingin berucap sesuatu, dan mataku merajut kata - katanya sendiri berusaha memberitahumu. Aku benar-benar ingin turun dan berlari memungut potongan puzzle-ku, sekedar mengucap sebentuk Cinta Dalam Diam yang tertahan di lidah ini.


Pa, kok ngelamun sih” suara istriku membuyarkan sebagian puzzle yang berusaha kususun kembali.

2 komentar:

  1. Waahh, Mbak Suzy ini mentang2 udah ke Samigaluh jadi bisa deskripsiin kebun teh di fiksinya :D hikz, sedih juga aku lom wisata kesono :P Hmmm....perasaan "suka" memang susah ditebak yahh, perasaan seperti itu kadang datang dengan penuh misterinya tersendiri. Oh ya mbak kuk tau banyak tentang korea???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arief W.S : yah begitulah... makanya main ke kebun teh dulu sana, gak jauh kok. "suka" jangan jadi cerita misteri hehe.
      enggak banyak kok dikiiiiiiiit banget, dari baca-baca majalah dan googling, makasih banyak buat yg punya blog korea aduh lali aku linknya soal hanbok dan bahasa koreanya.

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.