Jumat, 10 April 2015

RAHASIA

Pernahkah kamu terjebak dalam suatu masalah? Yang sedikit rumit, hingga kamu tak tahu hendak berbuat apa. Seperti buah simalakama, keputusanmu sangat mungkin berdampak bagi hubunganmu dengan seseorang. Bagaimana jika seseorang itu adalah seorang teman atau seseorang yang dekat?

Pernahkah kamu ada dalam situasi semacam itu? Jika pernah, apa yang akan kamu lakukan? Membukanya atau membiarkannya begitu saja.

Pernah baca jika kita sebaiknya menutupi keburukan seseorang, maka akan ditutupi keburukan kita sendiri. Apa beda keburukan, rahasia dan aib? Apakah beda dengan kesalahan atau kejahatan orang lain?


Aib, 1.malu : bagimu, itu adalah -- yg tiada terhapuskan lagi; janganlah merasa -- melakukan pekerjaan yg kasar; 2 n cela; noda; salah; keliru: (kbbi.web.id)
Keburukan, keadaan (sifat dsb) yg buruk; kejelekan;(kbbi.web.id)
Buruk, 1.rusak atau busuk krn sudah lama: memakai kain --; 2 (tt kelakuan dsb) jahat; tidak menyenangkan: kelakuannya sangat --; 3 tidak cantik, tidak elok, jelek (tt muka, rupa, dsb);-- muka cermin dibelah, pb menyalahkan orang atau hal lain meskipun sebenarnya dia sendiri yg salah, bodoh, dsb; -- perahu, -- pangkalan, pb tidak sudi lagi menginjak rumah bekas istrinya atau tempat bekerja yg telah ditinggalkan; ;(kbbi.web.id)

Rahasia,1.sesuatu yg sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain: ia mencoba mengorek -- temannya, tetapi tidak berhasil; 2 n sesuatu yg belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang: -- alam; 3 n sesuatu yg tersembunyi: pintu --; 4 n cara yg setepat-tepatnya (biasanya tersembunyi atau sukar diketahui); kiat: dl buku itu diterangkan -- bermain sulap; 5 n sesuatu yg dipercayakan kpd seseorang agar tidak diceritakan kpd orang lain yg tidak berwenang mengetahuinya; 6 a secara diam (sembunyi-sembunyi); tidak secara terangterangan (tt perkumpulan): gerakan --;;(kbbi.web.id)
Merasahasiakan,menjadikan rahasia; tidak mengumumkan; menyembunyikan: untuk kepentingan penyelidikan, polisi ~ nama-nama penyelundup;, ;(kbbi.web.id)

Saya sendiri bukan orang yang suci yang tak memiliki kesalahan atau keburukan, tetapi ada saatnya kita juga merasa gerah dengan ulah orang yang berulang kali berbuat jahat. Kadang saya berpikir bahwa saya sendiri juga memiliki salah dan dosa kenapa saya harus membuka salah atau dosa kejahatan orang lain. Kemudian kita berpikir ulang untuk tidak membuka, mungkin kita tegur saja. Kita menjadi takut jika suatu saat kita salah atau buruk maka keburukan atau kesalahan kita akan dibuka juga, benar begitu? Kadang bahkan saya berpikir mungkin suatu saat kejahatan itu akan terbuka dengan sendirinya, mungkin oleh orang lain dan di tempat,waktu yang lain.

Saya pernah berpikir bahwa tiap manusia tidak luput dari salah dan dosa atau keburukan, dan saya dan mungkin kamu juga berpikir bahwa sifat buruk seseorang akan berubah seiring berjalannya waktu dan usia. Mungkin akan berubah setelah kita menegurnya. Tetapi apa, selama ini saya bahkan melihatnya tidak demikian, sifat atau karakter telah melekat pada seseorang itu hingga tua. Dia cenderung mengulang kejahatan yang sama.

Teringat dengan kejadian membiarkan sebuah kejahatan di depan mata, pada kisah Spiderman, dimana bos pertandingan yang curang dirampok di depan mata dan karena jengkel maka Spiderman membiarkannya. Takdir berkata lain, ketika sang jahat akhirnya mengakhiri hidup sang kakek tercinta. Ini hanya contoh fiksi.

Apakah dengan membiarkan sebuah kejahatan di depan mata, maka kita berharap bahwa dia akan melakukan hal sama pada keburukan kita? Jadi, kita berharap seorang yang berlaku jahat akan berbuat baik dengan menutupi keburukan kita begitu? Jika itu hanya sekedar keburukan, kesalahan belum menjadi sebuah kejahatan mungkin masih bisa kita maafkan. Tapi, apakah dia berubah? Apakah dia tidak merasa nyaman dan aman karena kita yang tahu diam saja. Apakah dia tidak menambah besar kejahatannya justru karena dia merasa aman tadi? Kejahatan itu melibatkan sesuatu atau orang lain. Jadi ini berkaitan dengan nasib sesuatu atau orang lain.

Oh iya, soal kejahatan seseorang, saya pernah mengamati dan menarik kesimpulan−saya hanya membandingkan beberapa peristiwa saja di sekitar saya, bukan riset− bahwa terkadang kejahatan seseorang bahkan terbalaskan bukan pada yang bersangkutan.

Sebagai contoh ceritanya begini, ada tetangga saya sebut R dia merebut suami tetangga sebelah rumahnya pak T. Kemudian R menikah dengan T , dan mantan istri T akhirnya jatuh sakit karena memikirkan hal itu hingga meninggal. Mungkin mantan istri T sebut saja Ny U ini tidak melawan, tidak menuntut atau melabrak Ny R tetangganya, tetapi memilih diam dalam duka hingga meninggalnya. Saya mendapati akhirnya setelah Ny R memiliki anak laki- laki dan anaknya itu menikah, istri anak laki-lakinya itu akhirnya sakit sama dengan Ny U hingga meninggalnya. Sedangkan satu lagi anak perempuan Ny R ditinggalkan suaminya begitu saja padahal sudah memiliki satu anak. Ini kisah nyata. 

Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang seumuran dengan mereka, dan jangka waktu itu terjadi sangat lama sekali. Hingga ke anak cucunya. Mungkin itu jawaban do'a orang yang teraniaya, dan do'a orang - orang baik yang melihat sebuah ketidakadilan. Saya hanya heran kenapa kejahatan Ny R dibalaskan pada anak- anaknya bukan pada Ny R? Apa saya salah mengambil kesimpulan? Atau mungkin dengan begitu Ny R sadar kesalahannya setelah melihat derita anak – anaknya? Ataukah dengan begitu Ny R lebih merasa sakit? Atau mungkin di alam sana Ny R akan mendapat balasannya. Wallhu a’lam bish shawab.

Dari Abu Said Al Khudri Ra, saya mendengar Rasulullah Shallallu'alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya,  jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah- lemahnya iman"(HR.Muslim)

11 komentar:

  1. ngeri tuh ceritanya soal merebut suami orang. terus domino ke bawah dst, kasihan ya anak-anaknya yang jadi korban begitu. ya, menjadi bahan permenungan untuk kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Zach: kejadian nyata itu pak, iya kok bisa begitu ya, makanya saya heran kenapa anaknya yang mendapat kemalangan, padahal yang berbuat orang tuanya.

      Hapus
    2. Tuhan Maha Kuasa dan Tuhan Maha Tahu ya Mbak.
      semoga itu membawa hikmah besar buat semuanya

      Hapus
  2. Balasan
    1. Gustyanita Pratiwi: kalau bisa memilih ya pilih saja, tapi resikonya dibilang pilih-pilih teman, tapi kalau tak bisa ya hadapi saja yang ada hehe

      Hapus
  3. miris kalau baca masalah rebut2an suami :D

    BalasHapus
  4. Benar, memang kadang kita harus bisa merahasiakan hal-hal yang tidak perlu diketahui orang lain baik itu aib sendiri atau orang lain. Bahkan terkadang malah menjadi sebuah kewajiban,

    Cerita di atas, mengerikan... semoga saya tidak merebut istri orang apa lagi istri tetangga.

    Dari cerita tersebut si R paling tidak melakukan 2 kesalahan:
    1. Merebut suami orang
    2. Yang direbut suaminya adalah tetangganya sendiri
    Poin kedua lebih berbahaya saya pikir, karena masalah merebut suami orang sebenarnya kalau si suami tetangga tidak mau dan tidak ingin, maka si R tidak bakalan bisa merebut kecuali suka sama suka, ya kan? Poin 2 lebih berat masalahnya karena dalam islam tetangga memiliki hak istimewa, mereka harus dihormati, harus dijaga haknya, dan harus dibaiki.

    Entah berapa hadits yang memiliki arti sama:
    "Barang siapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir, maka berbuat baiklah terhadap tetangga"

    Sampai berbuat tidak baik/ menyakiti tetangga sedikit saja maka kita melanggar hadits tersebut, apalagi merebut suami tetangga.

    Na'udzubillah min dzalik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fikri: apapun salahnya yang penting orang itu sudah menerima balasannya sendiri, entah kapanpun itu.
      Semoga kita juga diberi tetangga yang baik-baik yang kita merasa aman karenanya.
      Sebenarnya inti posting saya adalah dari pertanyaan-pertanyaan itu, jawabnya apa, dan lebih bagaimana sikap kita saat melihat orang berbuat jahat, itu saja sih. Tapi malah pada fokus ke cerita rebut suami orang ya hehe. maksih buat komennya yang panjang Fik :)

      Hapus
    2. sama-sama, tentang pertanyaan2 itu... aku gak tau jawabannya :-) makanya memilih membahas yang lebih penting untuk dijadikan renungan. Juga sebenarnya saya bingung inti dari posting ini apa :-D, makanya saya ambil yang urgen saja.

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.