Kamis, 09 April 2015

KERETA MENUJU JATINEGARA

-Agler, seorang pemuda yang menyeret koper di lorong kereta, yang tak tahu entah mau kemana di Jakarta-

Namanya tak mencerminkan mata sipitnya, kulit bersihnya dan kaca matanya. Aku mendengar nama dan ceritanya dari percakapan Agler dengan dua orang yang duduk di depannya. Masih muda mungkin baru dua puluhan tahun. Saat itu aku menatapnya dari ujung mata sambil menahan muntah dan mual yang menyerang. Bulan puasa terakhir, sehari lagi Idul Fitri di Jakarta.

Entah saat itu aku tertidur saat berbaring setengah badan di kereta menuju Jatinegara. Ketika aku terbangun kutatap dia sedang menatap keluar jendela. Wajah itu mengingatkanku pada seseorang dan sebuah perasaan aneh merayap di dada. Kupandangi wajahnya dari pantulan di kaca. Dia masih menatap keluar jendela, dan aku masih menatapnya, sengaja. Biasanya aku tak seberani ini. Aku tahu Agler pasti melihat wajahku dari pantulan kaca. Tak berapa lama, tangannya tampak mengusap – usap lembut kaca yang dipandanginya dengan dua atau tiga jarinya, aku tersentak kaget. Apakah aku ketahuan.

Aku terbangun untuk kedua kalinya. Di luar masih gelap, hanya lampu-lampu kecil yang berlarian di luar kaca. Sesekali nyala kembang api menerangi angkasa, biasanya aku suka menikmati nyala kembang api seperti itu. Dengan seseorang yang lain.

Waktu sahur hampir usai, ada yang memesan nasi goreng, mi goreng, atau membuka bekalnya. Aku melihatnya mengunyah roti manis dan sesekali meneguk botol mineral. Entah, dia masih saja suka menatap ke luar kaca yang gelap setelah lelah bercakap dengan dua orang tua di depannya. Dan aku masih menatap pantulan wajahnya di kaca itu. Sesekali dia membenahi kaca matanya. Dia suka menatap gelap di luar kaca? Atau ada sesuatu yang dia lihat di sana?

Kasihan dia tidak ada keluarga atau teman yang di kenalnya di Jakarta” gumam dua orang di depannya. Aku mengingatnya karena ucapan itu.

Memasuki stasiun Jatinegara, sedikit gelap masih terlalu pagi. Aku hendak mengemasi koperku, dan kulihat dirinya pun melakukan hal yang sama. Dia melewatiku dan dengan sangat sopan dia mencium tangan lelaki di sampingku. Padahal lelaki itu sejak dia masuk kereta tak bicara sepatah katapun padanya.

4 komentar:

  1. Em.. jadi ingat waktu ke jakarta naik kereta... dulu, di usia 20an

    Mulai menulis fiksi ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fikri : ehm maksudnya kamu juga pernah ada kejadian gitu? eh
      iya, lagi pengin nulis saja

      Hapus
  2. Jadi lelaki itu siapa mbak? Mbak Suzy sukses bikin aku penasaran >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arief W.S : ehm...siapa ya? silahkan tebak sendiri hehe

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.