Kamis, 22 Januari 2015

Sang Tanpa Anak

Anak saya beberapa waktu meminjam buku di perpustakaan dengan judul Jatakamala. yang ditulis oleh Handaka Vijjananda. Buku yang berisi untaian kisah kelahiran dan beberapa kisah tentang Bodhisattwa yang berada pada relief candi Borobudur yang terukir pada bagian paling bawah candi. Berisi 185 kisah yang bisa dibaca dalam bentuk komik yang mudah dipahami, baik oleh anak ataupun orang dewasa. meskipun saya bukan penganut agama Budha tetapi saya membaca kisah dalam buku ini mengajarkan kebaikan, jadi tidak ada salahnya untuk membacanya sebagai penambah pengetahuan saja. Kebanyakan kisah Bodhisattwa yang bereinkarnasi menjadi berbagai makhluk dan manusia.

Setelah membaca-baca saya menemukan beberapa kisah yang sebelumnya saya pernah membaca atau mendengarnya ternyata dari kisah relief candi ini. Salah satunya kisah yang akan saya tuliskan disini, yaitu Sang Tanpa Anak (kisah ke-18). 

Sang tanpa anak bercerita tentang kelahiran Bodhisattwa yang lahir pada keluarga terpandang dimana rumahnya terbuka bagi seniman dan ilmuwan. Nasihatnya selalu dicari para hartawan sampai kaum melarat. Seiring waktu ia sering menyendiri dalam sunyi, dan berpikir bahwa kehidupan rumah tangga dipenuhi kesibukan dan duka.

Saat ayah ibunya meninggal ia memutuskan mendermakan seluruh hartanya dan kemudian menjadi pertapa berkelana menyusuri desa dan kota.  Selain sebagai pertapa yang baik juga sebagai guru bagi banyak orang yang ditemuinya. Hingga suatu hari perihal dirinya ini beritanya sampai pada keluarga ayahnya yang kemudian hendak membujuknya untuk kembali hidup seperti lainnya. 

Saat dibujuk itu ia menjawab mengenai hidup berumah tangga, bahwa hidup berumah tangga itu tidak nyaman, yang miskin berduka mencari harta, yang kaya berduka menjaga harta, dipenuhi tugas dan urusan sungguh sulit sehingga sulit menjalani dharma. Kelimpahan melahirkan kesombongan, kekuasaaan melahirkan keangkuhan, ditambah api kemarahan akibat kerugian kebencian akibat persaingan maka itu alangkah tentramnya tinggal dalam kesunyian, pelepasan, kecukupan hati dan kebebasan. Demikian jawabnya hingga membuat kawan ayahnya tersentuh hatinya.

Sekilas kisah ini mirip dengan Sidharta Gautama, tetapi saya kurang begitu tahu mengenai itu, mungkin mereka yang beragama Budha lebih mengetahuinya. 

Belajar dari berbagai kisah dimasa lalu, akan membuat kita belajar menjadi manusia yang lebih baik. Seperti itu juga dalam Al-Quran yang memuat banyak kisah- kisah teladan dari umat terdahulu agar bisa kita ambil pelajarannya.

Demikian sobat semoga bermanfaat.

4 komentar:

  1. nah betul bangat mbak kita bisa belajar dari berbagai sumber termasuk dari kisah orang non muslim

    BalasHapus
  2. Nindi Azzahra : iya mbak untuk menambah pengetahuan saja :)

    BalasHapus
  3. Ya,,, kalo kisah di atas kan berasal dari peninggalan Buddha. Kalau dalam Islam juga banyak kisah-kisah pada zaman kenabian yang bisa dipetik hikmahnya. :)

    BalasHapus
  4. Hilda Ikka : iya Hilda bener banget, belajar dari kisah -kisah masa lalu :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.