Rabu, 17 Desember 2014

Gerbang

Biasanya, segala sesuatu yang kutemui sudah kubaca. Tentang sekuntum bunga di meja, tentang seseorang yang datang penuh rindu, tapi tidak kupahami kata- katanya. Tentang ratapan seseorang dari masa lalu. Tentang burung yang bermain ranting pohon di puncak bukit.

Hari itu kita bertemu di pusaran waktu. Seseorang yang tidak ada dalam kertasku. Kertas di tanganku kubolak balik berulang kali bahkan mungkin ratusan kali, tetapi tidak kutemukan namamu disitu. Bahkan petunjuk yang sedikit menggambarkan dirimu pun tidak kutemukan. Semua yang berhubungan denganmu tidak dituliskan disana. Seakan -akan kamu diluar semua ini. 

Hari dimana aku membuka gerbang itu, hari dimana aku menemukanmu. Diam -diam kau berjingkat diantara pepohonan dan kertas-kertas yang bertebaran di seluruh taman. Kau kemudian bersembunyi dibalik sebuah pohon tua yang besar diujung taman. Dimana tak ada makhluk bersayap lain yang melihatmu, selain aku. Saat itu kulihat kau membaca sebuah gulungan kertas, beberapa gulungan lain berhamburan di sekitarmu. Gulungan itu hanya boleh dibaca oleh makhluk bersayap, bukan olehmu. Kau mungkin berada disini suatu saat nanti, tapi bukan sekarang, bukan diwaktu ini. Bahkan aku bingung, bagaimana tulisan di kertas itu bisa tampak olehmu. Seharusnya tidak.

Hingga disuatu waktu, ada seekor makhluk bersayap lain melihatmu. Sejak itu, aku tidak melihatmu lagi di taman itu. Bisa dipastikan setiap makhluk tak bersayap sepertimu tak akan lagi bisa masuk kesini. Sejak itu pula aku tidak lagi menjaga gerbang itu. Kudengar kau sering bertanya -tanya soal itu, atau soal gerbang di taman yang lain. Taman itu taman terlarang, kau tidak bisa masuk sesuka hatimu. Sayang sekali aku hanya mampu mengunjungimu ketika menjelang fajar tiba, saat kau masih terjaga dengan semua tulisan -tulisan itu.

Aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa kamu sampai di gerbang itu. Apa yang telah kau lakukan hingga sampai di sana. Satu-satunya alasanku tidak melemparmu dari taman itu karena aku mendengar semuanya. Satu hal lagi, saat itu aku lemparkan sebuah apel merah ke ujung kakimu. Merah segar dan kupikir kau akan mengambil dan menggigitnya. Aku salah, kau mengabaikannya.Seakan apel itu tidak ada disana. kau benar-benar tidak seperti mereka.

"Cintaaa, cepat turun dari situ, mi gorengnya keburu dingin"
"iya buuu"

Aduh, gimana turunnya ini, kenapa jadi setinggi ini pohon mangganya.

2 komentar:

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.