Sabtu, 18 Oktober 2014

Santun

Kehidupan di dunia maya ini seperti layaknya di dunia nyata. Berjuta juta lebih orang dengan berjuta-juta tujuan menulis dan berinteraksi. Ada yang sibuk berjualan, ada yang sibuk berpikir, ada pula yang bercerita pengalaman traveling dan berburu kuliner seantero negeri. Berkali kali saya membaca blog dengan beraneka macam gaya pemiliknya. Apa yang kita tulis juga berkemungkinan dibaca oleh siapa saja. Dari tulisan ahli bahasa, bahasa alay, bahasa gaul hingga istilalah – istilah rumit. Seakan kita menjumpai sebuah perpustakaan besar yang sangat lengkap. Apa saja ada.

Saya yang masih awam akhirnya menemukan sesuatu yang penting. Semakin bagus tulisan seseorang ternyata kata – kata yang digunakan semakin  santun. Tidak meledak – ledak, tidak penuh emosi. Saya tertegun dan terkagum – kagum membacanya. Menegur tanpa membodoh- bodohkan, memberitahu tanpa menggurui. Sangat bijak, saya merasa membaca tulisan seorang yang  tenang, luas ilmu pengetahuannya dan tidak sombong. Saya malah sungkan setengah mati menghadapi orang semacam ini. Seperti kisah dibuku Dale Carnagie, tentang taruhan antara angin dan matahari untuk membuat seseorang membuka jaketnya. Bagaimana angin dengan begitu sombong dan yakin mampu membuat orang tersebut melepas jaketnya, dengan tiupan angin yang keras kepadanya. Semakin keras angin bertiup justru orang itu semakin merapatkan jaket ketubuhnya karena dingin. Sedangkan matahari dengan tenang memberi kehangatan dengan sinarnya, sehingga pada akhirnya orang tersebut kepanasan dan membuka jaketnya.
 

Ada juga aturan tidak tertulis yang berlaku. Entah hanya perasaan saya saja atau benar, bahwa sesiapa yang dianggap salah, atau secara terang- terangan berpendapat tidak menyukai sesuatu / seseorang  ataupun kasar maka akan dibully habis-habisan. Secara terang- terangan ataupun tidak. Itu yang pernah saya temui.  Tapi tentu saja itu tidak berlaku bagi seorang bijak yang saya sebutkan di atas tadi. Dia tetap menegur dengan bahasa yang santun.
 
Saya berulang kali mengalami teman yang sudah bertahun – tahun bersama kita / bergaul ternyata kadang juga kita belum mengenal sepenuhnya, dan pada akhirnya terkaget- kaget mendapati kenyataan yang jauh dari perkiraan kita. Tidak mudah bagi saya untuk menaruh kepercayaan lagi. Pelan- pelan saya belajar untuk mempercayai bahwa masih ada manusia baik di dunia ini seperti sangkaan saya, dan dia benar seperti itu adanya didepan dan dibelakang saya. Meskipun mungkin saya hanya bergaul dan mengenalnya di dunia maya.

2 komentar:

  1. Aku suka tulisan seperti ini, mengamati kehidupan...

    BalasHapus
  2. Fikri : terimakasih, kadang kadang saja kok

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.