Jumat, 05 September 2014

Ya sudahlah

Sebuah sms masuk, "La, kalau kamu mau ke tempat pakdemu, mampir rumah dulu, bapak mau bicara sama kamu"
"Iya bu, Lala nanti mampir rumah dulu" sms terkirim.



 ***
"Kalau kamu mau tanda tangan, itu berarti kamu sudah menyetujui, itu juga berarti kamu seakan sudah menerima uang sejumlah yang tertera di kwitansi itu" ucap bapak sambil mengepulkan asap rokoknya.
"Lha saya kan ndak nerima uangnya pak, saya hanya membantu pakde saja buat balik nama" jawabku kemudian.
"Lha iya, tetapi orang tahunya kan kamu sudah tanda tangan berarti menerima, seolah - olah kamu yang jual gitu" ucap bapak kemudian.
"Semisal paklikmu yang di sulawesi tidak pulang seharusnya kan masih bisa diberikan kepada keluarganya yang masih di sini, atau dijual dan dikirimkan uangnya, tapi pakdemu itu memang sudah berencana lain" kata bapak sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan keudara berbarengan asap rokoknya.
Aku berpikir sejenak, benar juga kata bapak
"Lantas kenapa juga pakde dulu pakai namaku kalau ujung -ujungnya mau begini, kenapa tidak pakai nama pakde saja?" tanyaku pada bapak lagi. Ibukku sibuk menyeduh teh panas bapak digelas, melirik padaku sejenak "Lha ya itu, maksudnya apa?" kata ibukku kemudian.
"Kalau begini ceritanya aku hanya di plekotho ini pak" kataku yang disambut tawa bapak dan ibu.
"Lha nanti kalau disalahkan kan aku yang tanda tangan, aku yang melimpahkan dan gimana dengan pertanggung jawabanku nanti di sana" kataku lagi.
Bapak tersenyum sambil mengusap rambut kepalanya yang memutih,"Lha kalau seperti itu ya terserah kamu mau gimana, tapi ya itu tadi itu jadi tanggung jawabmu"

***
Sms masuk "Lha ya udah tanda tangani saja, biar saja nanti tanggung jawab dan dosa pakde kalau sudah di sana"
"Lha kalau di sana, itu juga aku tanggung jawab mbak, lha kalau ditanya kan aku juga yang tanda tangan, terserah aku tanda tangan atau tidak" sms terkirim.
Sms masuk "Hahahaha, lha kalau gitu gak usah tanda tangan saja, gak usah kesana lagi"
"Pakde saya tidak bisa menandatangani berkas itu sekarang, maaf pakde" sms terkirim

***
Sebuah mobil pick up masuk ke halaman depan, seorang wanita menggendong anak laki - lakinya dan seorang lelaki turun dari mobil itu. 
"Ini mbak berkas sudah siap semua, tinggal ditandatangani" ucap wanita itu yang adalah istri putra pakdeku. 
"Begini....."  

***

"Ayo La, keburu ketinggalan acara di bulikmu loh" ucap ibu yang mematut kebaya di depan cermin. Pagi itu semua sudah berkumpul disana, acara belum dimulai. Kulihat bude berkebaya dikejauhan, kami menghampiri dan bersalaman sekedar basa basi. Bude masih tersenyum dan bertanya ini itu yang tidak penting. 
"Lah pakde mana budhe?" tanyaku. Sekelebat kulihat menantu bude yang kemarin sore kerumah, menggendong anak lelakinya dan berlalu begitu saja senyumpun tak tampak diwajahnya. 
"Oh pakdemu masih di rumah, sana coba kamu lihat sana" ucap bude lagi. 
Kami berlima berlalu kerumah pakde, pintu kami ketok perlahan. Pakde muncul dari balik pintu, "Lah orang putune ada acara kok belum keluar to pakde" ucap ibukku sambil bersalaman. Aku bapak dan yang lain ikut bersalaman dengan pakde,"Ah awakku gak enak e, nanti saja" ucap pakde sambil berlalu masuk kembali kerumah meninggalkan kami begitu saja. Kami hanya saling pandang dan tersenyum.
"Ya sudahlah..." kata ibuku dan kami berlalu pergi.

*)Diplekotho (bahasa jawa) artinya kurang lebih dipermainkan.

6 komentar:

  1. duuuuuh.. aku kok ora mudeng iki critane tentang opo.. bisa kasih bocoran jawabannya nggak, mbak? hehehehe

    BalasHapus
  2. Budy Sinichi : tentang apa yaaaa ayo tebakan hehe
    waduh sayang mas Budy, bocornya sudah dikasih ember biar gak banjir kemana- mana :D

    BalasHapus
  3. pakdhe perlu didudut brengose itu Mbak, wong lanang koq nggak wani tanda tangan. btw ini buat kumpulan cerpen di buku ya mbak?

    BalasHapus
  4. hehe...tersenyum kuda saya baca komentarnya kakak tertuwa saya kang zach...sadis banget masa brengosnya pakdhe mau di dudul coba?

    BalasHapus
  5. Pak Zach : hehehehe pak Zach belum baca yaaa, ya jangan gitu pak sama orang tua ndak kualat, waduh cerpen pak?? bukan kok iseng saja. amin pak doakan semoga suatu saat saya punya buku hehehe

    BalasHapus
  6. Mang Lembu : iya mang cukup sadis takut kualat hehe, kok tahu kalau pakde disitu punya brengos ya :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.